Stunting sering dibahas, tetapi banyak keluarga masih bingung harus mulai dari mana. Padahal, Program stunting biasanya dibagi menjadi dua jalur besar: intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Karena itu, memahami bedanya membantu Anda memilih langkah yang paling relevan di rumah. Selain itu, pemahaman ini membuat komunikasi dengan kader, bidan, atau dokter jadi lebih jelas.
Program stunting: kenapa dibagi dua jalur?
Penyebab stunting tidak berdiri sendiri. Misalnya, anak bisa kurang gizi, tetapi juga sering sakit. Selain itu, lingkungan rumah bisa kurang bersih, sehingga risiko infeksi naik.
Karena itu, program pencegahan stunting umumnya dibagi dua:
- Intervensi spesifik: fokus langsung ke gizi dan kesehatan ibu-anak.
- Intervensi sensitif: fokus ke faktor pendukung, seperti sanitasi, pola asuh, dan kondisi sosial.
Dengan pembagian ini, layanan menjadi lebih terarah. Selain itu, peran keluarga dan peran lintas sektor jadi lebih mudah dipahami.
Apa itu stunting, secara sederhana?
Stunting adalah kondisi pertumbuhan anak yang terhambat dalam waktu lama. Akibatnya, tinggi anak bisa lebih rendah dibanding standar usianya. Namun, fokus utama bukan hanya tinggi badan.
Yang penting, stunting biasanya berkaitan dengan kualitas asupan, kesehatan, dan stimulasi yang konsisten sejak awal kehidupan. Oleh karena itu, pencegahan idealnya dimulai sebelum hamil, bukan setelah masalah terlihat.
Program stunting dan konsep “fase emas” keluarga
Anda sering mendengar istilah “fase emas” atau “masa kritis”. Intinya, pencegahan paling efektif dilakukan sejak:
- Remaja putri dan calon ibu.
- Masa kehamilan.
- Bayi lahir sampai usia dua tahun.
Fase ini sering disebut periode awal kehidupan. Karena itu, banyak intervensi spesifik menargetkan kelompok ini.
Intervensi spesifik dalam Program stunting: fokus langsung ke ibu dan anak
Intervensi spesifik adalah langkah yang berhubungan langsung dengan gizi dan layanan kesehatan. Jadi, dampaknya lebih terasa pada tubuh ibu dan anak. Selain itu, intervensi ini biasanya diberikan lewat fasilitas kesehatan dan posyandu.
Contoh intervensi spesifik yang sering ditemui keluarga
Berikut contoh yang umumnya termasuk spesifik:
- Pemeriksaan kehamilan rutin.
- Pemantauan pertumbuhan di posyandu.
- Edukasi menyusui dan pendampingan ASI.
- MP-ASI sesuai usia dan kebutuhan.
- Imunisasi dan pencegahan penyakit tertentu.
- Pemberian suplemen sesuai indikasi tenaga kesehatan.
- Tata laksana anak sakit dan rujukan bila perlu.
Namun, detail layanan bisa berbeda tiap daerah. Karena itu, Anda sebaiknya tanya alur di faskes terdekat.
Mengapa intervensi spesifik terasa “paling penting”?
Intervensi spesifik menargetkan faktor langsung. Misalnya, anemia pada ibu hamil dapat memengaruhi kondisi kehamilan. Selain itu, infeksi berulang pada anak dapat mengganggu nafsu makan dan penyerapan nutrisi.
Karena itu, layanan spesifik sering menjadi pintu masuk keluarga. Setelah itu, barulah dukungan sensitif memperkuat hasilnya.
Intervensi sensitif dalam Program stunting: fokus ke lingkungan dan kebiasaan
Intervensi sensitif adalah langkah pendukung yang tidak selalu terlihat seperti “program gizi”. Namun, dampaknya besar karena menyentuh akar masalah.
Intervensi sensitif sering melibatkan sektor di luar kesehatan. Selain itu, intervensi ini bisa berjalan lewat layanan desa, sekolah, bantuan sosial, dan program lingkungan.
Contoh intervensi sensitif yang relevan untuk keluarga
Ini beberapa contoh yang biasanya masuk kategori sensitif:
- Akses air bersih dan jamban sehat.
- Kebiasaan cuci tangan pakai sabun.
- Pengelolaan sampah dan drainase.
- Edukasi pola asuh dan kesehatan keluarga.
- Program ketahanan pangan keluarga.
- Dukungan ekonomi atau bantuan sosial bagi keluarga rentan.
- Pendidikan kesehatan reproduksi dan gizi di sekolah.
- Perlindungan ibu dan anak, termasuk pencegahan kekerasan.
Dengan kata lain, intervensi sensitif membantu keluarga “punya kondisi yang mendukung”. Jadi, intervensi spesifik tidak bekerja sendirian.
Program stunting: bedanya apa bagi keluarga di kehidupan sehari-hari?
Agar lebih gampang, lihat perbedaan ini dari sisi pengalaman keluarga.
Yang biasanya Anda rasakan dari intervensi spesifik
- Ada jadwal posyandu, imunisasi, atau kontrol hamil.
- Ada pengukuran berat dan tinggi anak.
- Ada saran MP-ASI atau suplemen dari tenaga kesehatan.
- Ada rujukan bila ditemukan masalah.
Hasilnya sering terlihat pada catatan pertumbuhan. Selain itu, keluarga mendapat arahan yang spesifik.
Yang biasanya Anda rasakan dari intervensi sensitif
- Lingkungan rumah lebih bersih dan aman.
- Anak lebih jarang sakit diare atau infeksi kulit.
- Ketersediaan makanan lebih stabil.
- Keluarga lebih paham pola asuh dan stimulasi.
Hasilnya sering terasa “pelan”. Namun, efeknya kuat dalam jangka panjang.
Checklist keluarga: cara memanfaatkan Program stunting tanpa bingung
Banyak keluarga sebenarnya sudah melakukan hal yang benar. Namun, langkahnya belum konsisten. Karena itu, pakai checklist sederhana ini.
Checklist intervensi spesifik untuk keluarga
Anda bisa cek poin berikut:
- Ibu hamil kontrol sesuai jadwal.
- Berat badan ibu dipantau, bukan dibiarkan.
- Anak ditimbang dan diukur rutin.
- Imunisasi anak mengikuti jadwal yang dianjurkan.
- Bila anak sakit, segera ditangani, tidak menunggu berat.
- MP-ASI dibuat bertahap sesuai usia dan tekstur.
- Protein hewani masuk menu anak secara rutin, bila memungkinkan.
Jika ada poin yang sulit, catat hambatannya. Lalu, bicarakan di posyandu atau puskesmas.
Checklist intervensi sensitif untuk keluarga
Anda bisa mulai dari yang paling realistis:
- Minum air yang aman, atau dimasak sampai matang.
- Cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan setelah dari toilet.
- Gunakan jamban, bukan buang air sembarangan.
- Kelola sampah agar tidak jadi sumber penyakit.
- Pastikan ventilasi dan cahaya rumah cukup, bila memungkinkan.
- Buat rutinitas tidur anak yang teratur.
- Luangkan waktu stimulasi sederhana, seperti membaca atau mengajak bicara.
Walau terlihat sederhana, kebiasaan ini mengurangi risiko anak sering sakit. Selain itu, nafsu makan anak biasanya membaik saat tidak sering infeksi.
Program stunting: pertanyaan yang boleh Anda ajukan di posyandu atau faskes
Bertanya itu bukan cerewet. Justru, pertanyaan yang tepat membuat layanan lebih efektif. Karena itu, Anda bisa memakai daftar ini.
Pertanyaan yang membantu:
- “Kenaikan berat dan tinggi anak saya sesuai, tidak?”
- “Kalau grafiknya melambat, langkah pertama apa?”
- “Menu MP-ASI yang paling cocok untuk kondisi anak saya apa?”
- “Anak saya sering susah makan. Triknya apa?”
- “Tanda bahaya yang harus saya waspadai apa?”
- “Layanan apa yang bisa saya akses selain posyandu?”
Selain itu, minta penjelasan singkat. Dengan begitu, Anda pulang dengan rencana yang jelas.
Kesalahan umum saat mengikuti Program stunting
Sering kali masalahnya bukan karena keluarga tidak peduli. Namun, karena informasi tidak utuh. Oleh karena itu, kenali jebakannya.
Kesalahan yang sering terjadi:
- Fokus hanya pada susu, tetapi lupa makanan keluarga.
- Menunggu anak “kurus dulu” baru bertindak.
- Menganggap anak pendek pasti keturunan, lalu berhenti memantau.
- MP-ASI terlalu encer dan kurang protein.
- Anak sering sakit, tetapi tidak dicari penyebab lingkungannya.
- Hanya datang ke posyandu saat ada pembagian, bukan saat pemantauan.
Solusinya biasanya adalah konsistensi dan komunikasi. Selain itu, mulai dari langkah kecil yang bisa dijalankan tiap hari.
Peta cepat: program stunting untuk keluarga berdasarkan tahap
Agar lebih praktis, ini peta singkatnya.
Remaja putri
Fokus:
- Pola makan seimbang dan kebiasaan sehat.
- Pencegahan anemia dan kelelahan.
- Edukasi kesehatan reproduksi.
Mengapa penting? Karena kesehatan remaja memengaruhi kesiapan kehamilan kelak.
Ibu hamil
Fokus:
- Kontrol rutin dan pemantauan kondisi ibu.
- Asupan cukup dan variasi protein.
- Istirahat dan manajemen stres.
Selain itu, keluarga sebaiknya ikut mendukung. Sebab, beban ibu hamil tidak ringan.
Bayi 0–6 bulan
Fokus:
- Menyusui optimal bila memungkinkan.
- Pantau tanda dehidrasi dan infeksi.
- Imunisasi sesuai jadwal.
Pada fase ini, rutinitas tidur dan kebersihan rumah juga berpengaruh.
Anak 6–23 bulan
Fokus:
- MP-ASI bertahap dan padat gizi.
- Protein hewani rutin, bila memungkinkan.
- Cegah infeksi lewat kebersihan dan sanitasi.
Fase ini sering paling menantang. Namun, di sinilah perubahan paling besar bisa terjadi.
Baca juga: [Obat Ditanggung BPJS: Cara Cek Formularium dan Tips Komunikasi dengan Dokter]
Kesimpulan
Program stunting membagi langkah pencegahan menjadi intervensi spesifik dan sensitif. Intervensi spesifik membantu langsung lewat layanan gizi dan kesehatan ibu-anak. Sementara itu, intervensi sensitif memperkuat hasil lewat lingkungan dan kebiasaan yang mendukung. Karena itu, keluarga tidak perlu memilih salah satu. Sebaliknya, hasil terbaik biasanya muncul saat keduanya berjalan bersama.
Ingin langkah yang lebih praktis? Baca artikel lanjutan kami tentang menu 7 hari MP-ASI sederhana dan cara membangun rutinitas keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak.
Baca juga: [Menu 7 hari untuk anak: protein, sayur, dan camilan sehat]

